Selasa, 26 April 2011

Tujuan dan Aspek-aspek Hukum Islam

Posted by Economy Syariah - F Class 09.02, under | 2 comments

I. Tujuan Hukum Islam
Islam adalah agama yang memberi pedoman hidup kepada manusia secara menyeluruh, meliputi segala aspek kehidupannya menuju tercapainya kebahagiaan hidup rohani dan jasmani, baik dalam kehidupan individunya, maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Secara umum, tujuan pencipta hukum (syari’) dalam menetapkan hukum-hukumnya adalah untuk kemaslahatan dan kepentingan serta kebahagiaan manusia seluruhnya baik si sunia maupun akhirat. Tujuan hukum islam yang demikian itu dapat kita tangkap antara lain dari firman Allah SWT:
Dalam QS. Al-Anbiya ayat 107,
107. dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Dan dalam surat QS. Al-baqarah:201-202,
201. dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka"[ Inilah doa yang sebaik-baiknya bagi seorang Muslim].
202. mereka Itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.
Tujuan Hukum Islam (maqashid al syari’ah) sebagaimana diuraikan di atas, dapat diperinci kepada lima tujuan yang disebut al-maqashid al-khamsah atau al kulliyat al-khamsah.


Lima tujuan itu adalah:
1) Memelihara agama (hifdz al-din).
Agama adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh manusia agar manusia dapat
2) Pemeliharaan jiwa (hifdz al-nafs).
Karena hukum islam wajib memelihara hak manusia untuk hidup dan mempertahankan kehidupannya.
3) Pemeliharaan akal (hifdz al-‘aql).
Pemeliharaan akal sangat penting bagi manusia karena dengan mempergunakan akalnya, manusia dapat berpikir tentang allah, alam sekitar dan dirinya sendiri.
4) Pemeliharaan keturunan (hifdz al-nasl).
Agar pemeliharaan kelanjutan keturunan dapat berlangsung dengan sebaik-baiknya.
5) Pemeliharaan harta (hifdz al-mal-wa al-‘irdh).
Agar manusia memperoleh harta dengan cara yang halal karena harta adalah pemberian tuhan kepada manusia untuk dapat mempertahankan hidup dan melangsungkan kehidupannya.

II. Aspek-Aspek Hukum Islam
Hukum islam sebagai hukum-hukum yang mempunyai asas dan tiang pokok. Kekuatan sesuatu hukum, sukar mudahnya, hidup matinya, dapat diterima atau ditolak oleh masyarakat tergantung kepada asas dan tiang-tiang pokoknya.
Maka asas-asas (dasar-dasar)pembinaan hukum islam yang dikatakan Da’a imut Tasyri’ = tiang-tiang pokok pembinaan hukum, antara lain, ialah :
 Nafyul Haraji = meniadakan kepicikan.
Allah berfirman :
“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. “
Segala hukum islam yang diwahyukan allah, tidak ada didalamnya sesuatu yang menimbulkan kepicikan yang sulit dipikul oleh manusia.
 Qillatul taklif
Tidak memperbanyak hukum taklifi, agar tidak memberatkan pundak mukallaf dan tidak menyulitkan mereka.
Allah berfirman :
“101. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”
Ayat ini mengharuskan para sahabat menyedikitkan pertanyaan dikala wahyu sedang turun mengenai masalah-masalah yang belum diterangkan hukumnya.
Segala awamir dan segala rawahi dalam al-qur’an dapat dikerjakan manusia. Ibadat-ibadat yang diwajibkan oleh al-qur’an dapat dilaksanakan tanpa merasakan kesulitan yang berat, seperti contoh : diwaktu al-qur’an menyebutkan hal-hal yang diharamkan, disebutkan secara terperinci satu per satu (al-maidah ayat 4 dan An nisa’ ayat 22)
4. mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang Dihalalkan bagi mereka?". Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu[399]. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu[400], dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya)[401]. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat cepat hisab-Nya.

[399] Maksudnya: binatang buas itu dilatih menurut kepandaian yang diperolehnya dari pengalaman; pikiran manusia dan ilham dari Allah tentang melatih binatang buas dan cara berburu.
[400] Yaitu: buruan yang ditangkap binatang buas semata-mata untukmu dan tidak dimakan sedikitpun oleh binatang itu.
[401] Maksudnya: di waktu melepaskan binatang buas itu disebut nama Allah sebagai ganti binatang buruan itu sendiri menyebutkan waktu menerkam buruan.


22. dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu Amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).

 Membina hukum dengan menempuh jalan tadarruj, tahap dengan tahap, satu demi satu.
di waktu islam lahir di tengah-tengah masyarakat Arab, yang telah lama benar bergelimang dalam aneka adat-istiadat, dan tentulah adat-istiadat, tentulah adat-istiadat itu tidak dapat dihilangkan semuanya sekaligus. Maka karenanya Al-Quran datang bersuku-suku. Hukum-hukum taklifnya datang beriringan setelah terjadi sesuatu seebab yang menghendaki hukum itu dan sesudah berakar hukum-hukum yang telah ditettapkan barulah ditetapkan hukum lain. Allah berfirman dalam surat Al-baqarah ayat 219,

219. mereka bertanya kepadamu tentang khamar[136] dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,

[136] Segala minuman yang memabukkan.

 Sejalan dengan kemaslahatan manusia.
Hukum islam dihadapkan kepada bermacam-macam jenis manusia dan ke seluruh dunia. Maka tentulah Pembina hukum memperhatikan kemaslahatan masing-masing mereka sesuai dengan adat dan kebudayaan.
Contoh : Umar Ibnu Abdul Aziz menolak hadiah, padahal dizaman rasul orang yang menerima hadiah sudah biasa (Cuma-cuma). Umar berkata : dulu hadiah itu benar-benar hadiah, tetapi sekarang menjadi risywah”.

 Mewujudkan keadilan yang merata.
Manusia didalam hukum islam, sama keadannya, baik dihadapan allah dan dihadapan hukum. Tidak ada perbedaan karena keturunan, pangkat, kekayaan, atau kedudukan sosial.
Menurut islam, siapa saja dituntut untuk berbuat adil, baik terhadap dirinya sendiri, dengan jalan memperlakukan orang lain dengan sikap yang ia juga ingin diperlakukan seperti itu pada orang lain, dan hal tersebut ada 3 macam, yakni : keadilan hukum yang berlaku harus seragam untuk seluruh warga negara tanpa diskriminasi. keadilan social adalah memberi kesempatan yang sama terhadap setiap orang untuk bekerja menurut kemampuan dan keahliannya, bagi mereka yang belum mempunyai pekerjaan karena dibawah umur/ tak mampu bekerja maka harus diberi bantuan untuk kebutuhannya. keadilan dalam pemerintahan semua warga negara mempunyai kedudukan yang sama dalam pemerintahan tidak ada diskriminasi mengenai bahasa, suku bangsa, dsb.


 Menutup segala jalan yang menuju kejahatan.
karena segala yang disampaikan kepada kita, mubah dipandang mubah. Dan segala yang makruh diapandang makruh. Segala yang menjerumuskan kita pada suatu yang haram maka itu hukumnya haram. Contoh: hukum memperbolehkan kita berpoligami. menurut hukum syara’ diantaranya , harus berlaku adil kepada istri, tidak menimbulkan kemadlaratan atau sesuatu yang diharamkan. dan jika ini dikaitkan pada suatu masyarakat akan terjadi ketidakharmonisan antar tetangga.

 Mendahulukan akal atas dhahir nash.
Menurut pendapat Al Ustazul Imam Muhammad Abduh dalam kitabnya: Al Islam wan nasraniyah, beliau mengatakan bahwa hampir akal berlawanan dengan naqal, kita mempunyai dua jalan :
Pertama: mengakui kashahihan naqal, jika kita tidak sanggup memahaminya, maka kita menyerahkan urusan pemahamannya kepada allah
Kedua: kita mentakwilkan dengan memperhatikan undang-undang bahasa agar sesuai dengan ketetapan akal kita.
Dengan jalan inilah akal dapat memecahkan segala permasalahan dan menyelesaikan segala rintangan.

 Membolehkan kita mempergunakan segala yang indah.
Dibolehkan kita memakai sesuatu yang indah, diperbolehkan kita memakan yang sedap dan lezat asalkan saja tidak berlebih-lebihan, dengan niat yang baik serta memelihara batas-batas agama. Allah berfirman dalam surat Al A’raf ayat 30-32,

30. sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.
31. Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid[534], Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan[535]. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
32. Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat[536]." Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.

[534] Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling ka'bah atau ibadat-ibadat yang lain.
[535] Maksudnya: janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.
[536] Maksudnya: perhiasan-perhiasan dari Allah dan makanan yang baik itu dapat dinikmati di dunia ini oleh orang-orang yang beriman dan orang-orang yang tidak beriman, sedang di akhirat nanti adalah semata-mata untuk orang-orang yang beriman saja.
 Menetapkan hukum berdasarkan ‘uruf yang berkembang dalam masyarakat.
Nafaqah seseorang istri diukur dengan keadaan suami istri. Nafaqah istri si A belum tentu sesuai dengan nafaqah istri si B. dalam Al-Qur'an kerap kali terdapat perkataan ma'ruf dan 'uruf, dan kerapkali dipautkan sesuatu hukum dengan ma'ruf atau dengan 'uruf. dengan mudah kita dapat mengetahui bahwasanya makna ma'ruf atau 'uruf, ialah:

مستنكر غير مالو فا رفا ماكانمتعا
“sesuatu yang telah berkembang dan terkenal dalam masyarakat tidak dipandang jijik dan buruk”.
Sebagaimana makna munkar, ialah:

لفة وأ عرف به مالايجري
“sesuatu yang tidak biasa berlaku dan kurang disukai”.
Allah SWT berfirman:
kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya[144]. Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim.
[144] Ayat Inilah yang menjadi dasar hukum khulu' dan penerimaan 'iwadh. Kulu' Yaitu permintaan cerai kepada suami dengan pembayaran yang disebut 'iwadh.
(ayat 229:S.2; Al Baqarah)

114. tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau Mengadakan perdamaian di antara manusia. dan Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, Maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.
(ayat 114:S.4; An Nisa')

19. Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa[278] dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata[279]. dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

[278] Ayat ini tidak menunjukkan bahwa mewariskan wanita tidak dengan jalan paksa dibolehkan. menurut adat sebahagian Arab Jahiliyah apabila seorang meninggal dunia, Maka anaknya yang tertua atau anggota keluarganya yang lain mewarisi janda itu. janda tersebut boleh dikawini sendiri atau dikawinkan dengan orang lain yang maharnya diambil oleh pewaris atau tidak dibolehkan kawin lagi.
[279] Maksudnya: berzina atau membangkang perintah.

Dalam ayat-ayat ini dan dalam kebanyakan ayat-ayat lain diserahkan problema muamalat kepada 'uruf setempat, bukan kepada 'uruf orang Makkah atau 'uruf orang Madinah, karena 'uruf itu berbeda-beda, masing-masing daerah ada 'urufnya karenanya tidaklah layak sebagian fuqaha membatasi mut'ah thalaq atau nafaqah istri dengan berpegang kepada 'uruf Madinah.
kalimat ma'ruf terdapat dalam Al Qur'an pada 38 tempat, sedangkan kalimat'uruf terdapat pada dua tempat. dan kerapkali pula Al Qur'an menggunakan kalimat yang dapat diterapkan kepada Shalihan. dan dikehendaki dengan kalimat shalah adalah segala yang tidak buruk.
Seorang hakim (penguasa) yang berbuat aniaya terhadap rakyat, melengahkan urusan rakyat hingga berkembanglah kerusakan dalam masyarakat, tidaklah dipandang orang yang shaleh, walaupun dia bertasbih sehari-suntuk. Lantaran inilah Al Ustazul Imam Muhammad Abduh mentafsirkan firman Allah:
   •         
105. dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur[973] sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.
[973] Yang dimaksud dengan Zabur di sini ialah seluruh kitab yang diturunkan Allah kepada nabi-nabi-Nya. sebahagian ahli tafsir mengartikan dengan kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud a.s. dengan demikian Adz Dzikr artinya adalah kitab Taurat.
(ayat 105:S.21; Al Anbiya')
 Keharusan atau kewajiban kita mengikuti segala sabda Nabi SAW yang disabdakan sebagai syari'at, tidak diwajibkan kita mengikuti sabda-sabda Nabi atau anjuran-anjurannya yang berhubungan dengan keduniaan yang berdasarkan ijtihad.
Tugas Rasul : menunjuki alam (manusia) ini kepada jalan-jalan keselamatan dan kelurusan, mendirikan keadilan di antara mereka serta mendidik mereka berperangai utama dan berbudi mulia. Dan kita btelah mengetahui bahwa hukum islam mendahulukan apa yang ditetapkan akal atas dhahir syara’ apabila pertentangan. Nabi telah menandaskan kepada kita bahwa kita wajib mengikuti beliau terhadap segala sesuatu yang beliau datangkan dari pada Allah dan tidak wajib kita menuruti tentang sesuatu yang mengenai urusan ke duniaan.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Musa ibn Thalhah dari ayahnya, ujarnya:

"Saya melalui bersama Rasulullah s.a.w. segolongan orang yang sedang mengurus pohon-pohon kurma. Maka Rasul berkata: "Apakah yang dibuat mereka?". Para shahabat menjawab: "Mereka mengawinkan yang jantan kepada yang betina". Maka berkatalah Rasulullah:" Saya pikir hal itu tidak mendatangkan faedah apa-apa". Kemudian perkataan Rasul disampaikan pada mereka. Karenanya merekapun meninggalkan perbuatan itu. Kemudian hal itu dikhabarkan kepada Rasulullah s.a.w.. Maka berkatalah Rasul: "Jika mengawinkan itu mendatangkan manfaat, maka hendaklah mereka teruskan. Karena aku hanya menyangka suatu persangkaan. Janganlah kamu menyalahkan daku. Tetapi jika daku menceritakan kepadamu atas nama Allah, maka ambillah apa yang kuceritakan itu. Karena sesungguhnya aku sekali-kali tidak akan berdusta terhadap Allah".

"Rasulullah datang ke Madinah sedangkan penduduk Madinah mengawinkan kurma, maka Rasul bertanya: "Apa yang kamu lakukan?". Mereka menjawab: "Kami mengawinkan kurma". Nabi bersabda: "Boleh jadi kalau kamu tidak lakukan lebih baik bagimu". Karena itu mereka¬pun tidak berbuat lagi Karenanya rusaklah penghasilan mereka, lalu mereka menerangkan hal tersebut kepada Nabi. Karenanya berkatalah Nabi: "Hanyasanya aku seorang manusia, apabila aku menyuruh kamu mengerjakan sesuatu dari urusan agamamu, maka kerjakanlah dia. Dan apabila aku menyuruh kamu mengerjakan sesuatu berdasarkan fikiranku, maka aku hanyalah seorang manusia".

Dan diriwayatkan oleh Muslim dari pada Anas, bahwasanya Nabi s.a.w. :

"Nabi melalui segolongan orang yang mengawinkan kurma, maka berkatalah Nabi: "Andaikata mereka tidak berbuat demikian, tentulah lebih baik". Karenanya merekapun tidak berbuat lagi dan hasillah kerugian. Kemudian Nabi menemui mereka dan menanyakan apa yang telah terjadi bagi kurma-kurmamu?. Mereka menjawab: "Tuan mengatakan begini-begini". Nabi berkata: "Kama lebih mengetahui tentang urusan-urusan duniamu".
Di waktu orang menanyakan hal itu kepada Nabi, maka beliau menandaskan bahwa beliau adalah seorang manusia.
Ahli-ahli pertanian atau ahli-ahli pertukangan tentulah lebih mengetahui tentang masalah-masalah pertanian dan masalah-masa¬lah pertukangan.
Allah memelihara Rasul dari kesilapan dan kesalahan dalam melaksanakan tugas menyampaikan syari'at dan aturan-aturan Allah.
Dari keterangan-keterangan yang tersebut tadi, dapatlah kita mengetahui bahwa dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan ke duniaan, pertukangan, pertanian dan sebagainya, bukanlah masalah-masalah yang mendapat wahyu dari pada Allah s.w.t.
 Masing-masing orang yang berdosa hanya memikul dosanya sendiri .
Di dalam QS. Al An'am: 164 Allah berfirman:
"Dan seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain "

Di dalam QS. An Najm: 28-29, Allah berfirman:
"Bahwasanya seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seseorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakan."

Ayat-ayat ini semuanya menandaskan bahwa dosa ayah tidaklah dipikulkan atas si anak. Sebaliknya dosa di anak tidak dipikul oleh si ayah.
Dalam pada itu janganlah dikatakan bahwa di dalam hukum-hukum Islam, ada hukuman yang tidak hanya dikenakan atas si penindak pidana sendiri, sebagaimana pada diyat orang yang terbunuh dengan tidak sengaja dikenakan atas ‘ashabah si pembunuh, dan sebagaimana yang dapat kita pahamkan dari pada ayat 35 S. 8 Al Anfal, karena kami dapat mengatakan terhadap urusan diyat bahwa hal itu dikenakan atas keluarga si pembunuh dalam bangsa-bangsa yang mempunyai 'ashabiyah yang kokoh yang setiap anggota keluarga (kabilah) bergerak serentak menentang atau menuntut bela terhadap seseorang yang terbunuh di antara mereka. Apabila seseorang mereka dibunuh orang. maka seluruh anggota keluarga bangun menuntut bela sebagaimana yang berlaku di antara orang-orang Badui dan kebanyakan orang Arab sekarang.
Karenanyalah para fuqaha menandaskan bahwa tidak dikena¬kan diyat atas keluarga si pembunuh terhadap bangsa-bangsa yang kabilah-kabilahnya tidak bersatu padu bangun serentak me¬nuntut bela, sebagai keadaan orang-orang Barat, orang Persia, orang Mesir dan Iain-lain.
Inilah suatu bukti, bahwa Islam mendatangkan hukum-hukum yang sesuai dengan keadaan masyarakat masing-masing.

Syara’ yang menjadi sifat dzatiyah Islam
Syara' yang menjadi sifat dzatiyah Islam, kebanyakan hukumnya diturunkan secara mujmal buat memberi lapangan yang luas kepada para failasufiah untuk berijtihad dan buat memberikan bahan penyelidikan dan pemikiran dengan bebas dan supaya Hukum Islam itu menjadi elastis sesuai dengan tabi’at perkembangan manusia yang berangsur-angsur, dan sesuai pula dengan jalan yang ditempuh dibidang taklif amaly, yaitu selalu Al-Qur-an menghadapkan hukumnya kepada akal dan tidak sedikitpun merintangi kekuatan akal atau mengingkari keistimewaan akal, bahkan Islam mengakui kedudukan akal serta menjadikannya manathut taklif.
Dalam Al-Qur-an, Allah menerangkan. kedudukan akal dan menyuruh kita bertahkim kepada akal dalam menghadapi segala kemungkinan.
Perhatikan ayat berikut:
QS. An Nisa':82

Artinya: "Apakah mereka tidak mempelajari Al-Qur-an ? Sekiranya Al-Qur-an itu bukan dari sisi Allah, maka tentu saja mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya".

QS. Al-Baqarah:170

Artinya: "Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah ?" Mereka itu menjawab :" (Tidak), tetapi kam imengikuti apa yang kami peroleh dari nenek moyang kamit walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk".

Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Agama itu adalah akal Tak ada agama bagi orang yang tidak ada akal. Ambillah hikmat di mana saja kamu perolah dan tidak memberi melarat kepada engkau dari wadah mana hikmat itu keluar.
Seorang fakih (ahli hukum) yang beribadat baik, lebih utama di sisi Allah dari seribu orang abid, (pembuat ibadat) yang'tidak mengerti hukum".
Hadits-hadits ini dengan tegas dan nyata mengajak kita manusia bertahkim kepada akal di segala urusan yang kita hadapi, istimewa di dalam hal-hal yang tidak ada nash Qur-any atau Nabawy.

Diriwayatkan oleh Al Baghawy dari Mu'adz ibn Jabal:
"Sesungguhnya Rasul tatkala mengutus Mu’az ke Yaman berkata kepadanya: "Betapa engkau memutuskan perkara bila dikemukakan satu perkara kepada engkau?" Mu'az menjawab: "Saya memutuskan perkara dengan Kitabullah". Nabi bertanya: "Jika kamu tidak menemui dalam Kitabullah?" Mu'az menjawab: "Kalau demikian, saya putusi perkara dengan Sunnah Rasulullah?" Nabi bertanya pula: "Kalau kamu tidak menemukan diKitabullah dan di Sunnah Rasulullah?" Mu'az menjawab: "Saya mempergunakan ijtihad dan saya tidak bermudah-mudah dalam hal itu". Maka Rasulullah menepuk dadaku sambil berkata: "Segala puji kepunyaan Allah yang telah mentaufiqkan kepada yang diridlai Rasulullah".
Dalil ini dan yang sernakna dengan dia tegas mengakui kedudukan akal dan menyuruh menggunakannya dalam mentafsirkan Al-Qur-an sebagai nash yang mujmal, baik di bidang ibadat, ataupun muamalat. Kita diperintahkan agar menggali hikmah disyari'atkan kedua bidang tersebut seperti shalat, zakat, puasa haji, hudud, hibah, washiyat, mirats, nikah dan sebagainya.
Dalam menghadapi ini kita dihadapkan kepada dua soal:
1) Apakah Hukum Islam tunduk kepada suasana, masa dan tempat, ataukah milieu, suasana dan tempat tunduk kepada Hukum?
2) Apakah Hukum Islam menerima perubahan dan masa ke masa dengan tetap memelihara hakekatnya dan tugasnya, ataukah wasilah-wasilah itu tak bisa berubah-ubah dan tak dapat merubah Hukum?
ad. 1) : Hukum Islam tunduk kepada milieu, suasana dan tempat, karena maksud hukum, ialah mewujudkan kemaslahatan manusia dari memungkinkan manusia mempergunakan segala keistimewaan manusia, tidak menyempitkan kehidupan mereka, baik secara pribadi maupun golongan.
ad. 2) : Hukum Islam menerima perubahan di bidarig wasilah dan. kenyataan, selama perubahan ini mewujudkan tujuan hukum dengan jalan yang paling mudah. Di masa dahulu kefakiran ditanggulangi dengan zakat dan dengan mengajak hartawan berbuat ihsan kepada fakir-miskin. Hal ini berlaku sebelum problema-problema kehidupan meluas dan sampai kebatas yang kita sekarang ini dan sebelum ada kebudayaan materiil yang mewujudkan fasilitas-fasilitas ekonomi dan Iain-lain.
Oleh karena keadaan masyarakat manusia yang serba tekhnologis dan berwujud bermacam-macam jalan untuk menggunakan akal dan tenaga, maka kita berpendapat, bahwa memerangi kemiskinan dan kefakiran tidak lagi dibatasi dengan zakat, tetapi harus disediakan jalan-jalan lain untuk memeranginya.



Kesimpulan
• Tujuan hukum islam ada lima, yaitu :
- Memelihara agama
- Memelihara jiwa
- Memelihara akal
- Memelihara keturunan
- Memelihara harta
• Aspek-aspek hukum islam dibagi menjadi dua belas yaitu :
- Nafyul Haraji = meniadakan kepicikan.
- Qillatul taklif (hukum yang memberatkan mukallaf
- Membina hukum dengan menempuh jalan tadarruj, tahap dengan tahap, satu demi satu.
- Sejalan dengan kemaslahatan manusia.
- Mewujudkan keadilan yang merata.
- Menutup segala jalan yang menuju kejahatan.
- Mendahulukan akal atas dhahir nash.
- Membolehkan kita mempergunakan segala yang indah.
- Menetapkan hukum berdasarkan ‘uruf yang berkembang dalam masyarakat.
- Keharusan/kewajiban kita mengikuti segala sabda nabi SAW. Yang disabdakan sebagai syariat, tidak diwajibkan kita mengikuti sabda-sabda beliau atau anjuran-anjuran beliau yang berhubungan dengan keduniaan yang berdasarkan ijtihadnya.
- Masing-masing orang yang berdosa hanya memikul dosanya sendiri.
- Syara’ yang menjadi sifat dzatiyah Islam.

DAFTAR PUSTAKA
1. Drs. Zuhdi, masjfuk. 1987. Pengantar hukum Syariah.Jakarta:Haji Masagung.
2. Prof. Dr. H. Usman, Suparman. 2001. Hukum Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama.
3. Daud ali, mohammad.1990.Hukum Islam.jakarta: Rajawali pers
4. Prof. Dr. T. M. Ash-Shiddieqy, hasbi. 1975. Falsafah Hukum Islam. Jakarta: Bulan Bintang


Oleh:
Ima Safitri
Nur Dinah Fauziah

2 komentar:

Assalamualaikum.
Boleh kah ana banyak belajar tentang ekonomi islam dari antum

Monggo, dengan senang hati. Ini dengan Siapa?

Poskan Komentar